Langsung ke konten utama

Debar Kopdar the Series #GoingHome

Setelah berpamitan, berjabat tangan dan saling bertukar ciuman di pipi dengan para akhwat, aku yang akhirnya memutuskan untuk pulang besok Senin, karena ngga mungkin berani juga pulang siang itu sendirian karena mas Rauf ternyata ingin lebih berlama berada di Jogja rupanya, jadilah aku manut, dan mengikuti rencana dadakan yang dia adakan.

Rencana pertama, aku dan mas Rauf akan ikut bunda Tita dan mba Mab yang keberangkatan keretanya masih nanti malam. Entahlah setelah itu akan bagaiaman, yang jelas, kita berdua nginthil  aja gitu kayak itik ngekor induknya. Setelah mobil grab yang bunda Tita pesan datang, Aku, Bunda Tita, mba Mab, Valya dan mas Rauf segera masuk dan memasukkan barang-barang bawaan kami kedalam mobil. Mas Rauf duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja, lah, kok jadi nyanyi :D Bukan, kita kan naik mobil, bukan naik delman istimewa, mas Rauf karena laki-laki sendiri, dia duduk didepan disamping bapak supir yang ramah, ya jelas saja, ini kan Jogja, terkenal kalem-kalem penduduknya, inggih nopo inggih?

Good bye Langenastran, yang kata a Gilang kalo dibaca sepintas jadinya bukan Langen, tapi Kangen. Mobil mulai melaju, pak supir mengeraskan volume audio yang ada, kebetulan sekali, hampir semua lagu yang diputar adalah lagu-lagu Sheila on 7, lengkap sudah rasa syahduku meninggalkan tempat yang baru beberapa puluh meter semakin menjauh sudah menyesakkan bola-bola rindu didada. 

Dalam perjalanan menuju rumah saudara bunda Tita didaerah Pogung, bunda Tita tengah asyik bercerita dengan mba Mab, aku yang berada diujung kiri mobil, mencoba fokus dengan suara riuh rendah bunda Tita di ujung kanan sana ketika bercerita. Sesekali bunda bercerita dengan nada riang, kemudian menjadi pelan kemudian bunda mulai mengusap matanya yang sedikit berair. 

"Bunda Tita kenapa ya?" tanyaku dalam hati, aku mencoba lebih berkonsentrasi mendengar penggalan-penggalan cerita yang dituturkan bunda. Yang dapat kutangkap, nama Reza adalah tokoh utama dari kisah yang bunda ceritakan. Sampai pada saat bunda mengatakan hal ini,

"Reza itu anak baik, banyak yang sayang Reza, sekarang banyak juga yang kehilangan Reza." 

Air mataku tak terasa merembes begitu saja, aku terus menyenandungkan lagu-lagu yang dinyanyikan om Duta sambil mengalihkan pandanganku pada jalanan Jogja. Kupandangi sebuah universitas yang sejalan-jalan belum pula kudapati akhirnya, UGM, sungguh ini kali pertama aku melihatnya, ditemani dengan kisah menyayat hati seorang pemuda yang tahun lalu atau beberapa tahun yang lalu ikut serta dalam berjuang mencapai cita-cita didalamnya, yang kini telah Allah panggil kedalam haribaanNya. Sepintas aku melihat kearah bunda dan kulihat bunda berusaha keras untuk menghapus air mata itu, mencoba untuk mereset mood yang dengan seketika menjadi tenang dan siap melanjutkan jalan-jalan kami sebelum kembali ke kota masing-masing.

***

Ambarukmo Plaza, Jogja.

Sekitar jam empat kurang kami berlima sampai di Amplaz, destinasi pertama tentu saja Gramedia, seakan belum puas dengan hadiah buku yang tadi kami dapat, masih tetap saja menikmati ribuan buku yang tertata rapi di rak-rak itu dapat memberikan rasa tentram somehow. Setelah berkeliling, kami duduk di bangku yang ada didepan toko-toko. Valya asyik dengan lilin playdough yang barusan dia dapatkan dari hasil 'merampok' sang mama, kalo engga dibeliin, bisa saja senjata rahasia berbahaya itu ia keluarkan, haha, you know lah, nangis sekenceng-kencengnya, hahay, pernah kecil kan dulu? :D

Valya yang dari sejak di stasiun Tugu kemarin sudah bertemu dengan kami memang pendiam, dia tak banyak bicara, dan sedikit tertutup menurutku, tak mudah untuk didekati. Dan waktu dia mulai membuat bentuk-bentuk abstract dari lilin berwarna oranye itu, aku merasa tergelitik dan mencoba pedekate dengan menunjukkan skill membuat bentuk-bentuk kue, hewan dan bentuk-bentuk lainnya, dan benar saja, jurusku berhasil. Saat aku mulai membentuk manusia salju yang kuberi rambut-rambut panjang, Valya tertawa geli melihatnya, yess, berhasil, teriakku histeris dalam hati. Akhirnya aku bisa merebut perhatiannya juga hehe. Dan hingga perjalanan pulang Valya terus saja memintaku membuatkan aneka ragam bentuk dari lilin warna-warni itu.

Adzan Maghrib berkumandang, kami pun melanjutkan perjalanan untuk mampir membeli oleh-oleh, ohiya, hanya ada satu foto yang bisa dijadikan oleh-oleh dari Amplaz, foto ini juga aku ambil dari blog bunda Tita, maaf bunda ngga permisi dulu udah main post :D


Bakpia yang diidamkan bunda telah didapat, saatnya kami pulang. Pukul sembilan malam aku dan mas Rauf berpamitan menuju Solo. Terima kasih untuk sisa liburan sore ini ya bunda Tita, mba Mab dan Valya. Semoga Allah juga senantiasa melapangkan rezeki, terutama untuk bunda Tita, dilapangkan pula hatinya, semoga dapat segera menyelesaikan buku Biografi mas Reza, agar dapat meginspirasi para pemuda, tak luput juga para orang tua agar bisa menjadi orang tua yang luar biasa seperti bunda, yang melahirkan generasi luar biasa pula seperti halnya almarhum mas Reza, aaamiin.

Jogja, sebuah kota dengan berjuta kenangan dan kerinduan. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan. Terima kasih ODOP, karena telah mempertemukanku, mengenalkanku pada sosok-sosok yang inspiratif, dan luar biasa dapat menjadi teladan bagiku. Semoga niat baik Bang Syaiha dalam mendirikan ODOP, menghasilkan berkali lipat kebaikan dan dapat menyebarkan lebih banyak lagi kebaikan bagi nusa, bangsa, dan agama. 

FIN ....

Enaknya diceritain juga ngga gimana perjalanan pulang malam itu, dari Jogja ke Solo, terus dari Solo ke Semarang? :D Ngga tau deh, segini dulu aja dah. Next time kali ya aku ceritain. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan untuk mengikuti tulisan ini sampai episode terakhir, semoga ada hal baik yang dapat diambil :)

#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode10

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi. Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku ...