Setelah berpamitan, berjabat tangan dan saling bertukar ciuman di pipi dengan para akhwat, aku yang akhirnya memutuskan untuk pulang besok Senin, karena ngga mungkin berani juga pulang siang itu sendirian karena mas Rauf ternyata ingin lebih berlama berada di Jogja rupanya, jadilah aku manut, dan mengikuti rencana dadakan yang dia adakan.
Rencana pertama, aku dan mas Rauf akan ikut bunda Tita dan mba Mab yang keberangkatan keretanya masih nanti malam. Entahlah setelah itu akan bagaiaman, yang jelas, kita berdua nginthil aja gitu kayak itik ngekor induknya. Setelah mobil grab yang bunda Tita pesan datang, Aku, Bunda Tita, mba Mab, Valya dan mas Rauf segera masuk dan memasukkan barang-barang bawaan kami kedalam mobil. Mas Rauf duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja, lah, kok jadi nyanyi :D Bukan, kita kan naik mobil, bukan naik delman istimewa, mas Rauf karena laki-laki sendiri, dia duduk didepan disamping bapak supir yang ramah, ya jelas saja, ini kan Jogja, terkenal kalem-kalem penduduknya, inggih nopo inggih?
Good bye Langenastran, yang kata a Gilang kalo dibaca sepintas jadinya bukan Langen, tapi Kangen. Mobil mulai melaju, pak supir mengeraskan volume audio yang ada, kebetulan sekali, hampir semua lagu yang diputar adalah lagu-lagu Sheila on 7, lengkap sudah rasa syahduku meninggalkan tempat yang baru beberapa puluh meter semakin menjauh sudah menyesakkan bola-bola rindu didada.
Dalam perjalanan menuju rumah saudara bunda Tita didaerah Pogung, bunda Tita tengah asyik bercerita dengan mba Mab, aku yang berada diujung kiri mobil, mencoba fokus dengan suara riuh rendah bunda Tita di ujung kanan sana ketika bercerita. Sesekali bunda bercerita dengan nada riang, kemudian menjadi pelan kemudian bunda mulai mengusap matanya yang sedikit berair.
"Bunda Tita kenapa ya?" tanyaku dalam hati, aku mencoba lebih berkonsentrasi mendengar penggalan-penggalan cerita yang dituturkan bunda. Yang dapat kutangkap, nama Reza adalah tokoh utama dari kisah yang bunda ceritakan. Sampai pada saat bunda mengatakan hal ini,
"Reza itu anak baik, banyak yang sayang Reza, sekarang banyak juga yang kehilangan Reza."
Air mataku tak terasa merembes begitu saja, aku terus menyenandungkan lagu-lagu yang dinyanyikan om Duta sambil mengalihkan pandanganku pada jalanan Jogja. Kupandangi sebuah universitas yang sejalan-jalan belum pula kudapati akhirnya, UGM, sungguh ini kali pertama aku melihatnya, ditemani dengan kisah menyayat hati seorang pemuda yang tahun lalu atau beberapa tahun yang lalu ikut serta dalam berjuang mencapai cita-cita didalamnya, yang kini telah Allah panggil kedalam haribaanNya. Sepintas aku melihat kearah bunda dan kulihat bunda berusaha keras untuk menghapus air mata itu, mencoba untuk mereset mood yang dengan seketika menjadi tenang dan siap melanjutkan jalan-jalan kami sebelum kembali ke kota masing-masing.
Rencana pertama, aku dan mas Rauf akan ikut bunda Tita dan mba Mab yang keberangkatan keretanya masih nanti malam. Entahlah setelah itu akan bagaiaman, yang jelas, kita berdua nginthil aja gitu kayak itik ngekor induknya. Setelah mobil grab yang bunda Tita pesan datang, Aku, Bunda Tita, mba Mab, Valya dan mas Rauf segera masuk dan memasukkan barang-barang bawaan kami kedalam mobil. Mas Rauf duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja, lah, kok jadi nyanyi :D Bukan, kita kan naik mobil, bukan naik delman istimewa, mas Rauf karena laki-laki sendiri, dia duduk didepan disamping bapak supir yang ramah, ya jelas saja, ini kan Jogja, terkenal kalem-kalem penduduknya, inggih nopo inggih?
Good bye Langenastran, yang kata a Gilang kalo dibaca sepintas jadinya bukan Langen, tapi Kangen. Mobil mulai melaju, pak supir mengeraskan volume audio yang ada, kebetulan sekali, hampir semua lagu yang diputar adalah lagu-lagu Sheila on 7, lengkap sudah rasa syahduku meninggalkan tempat yang baru beberapa puluh meter semakin menjauh sudah menyesakkan bola-bola rindu didada.
Dalam perjalanan menuju rumah saudara bunda Tita didaerah Pogung, bunda Tita tengah asyik bercerita dengan mba Mab, aku yang berada diujung kiri mobil, mencoba fokus dengan suara riuh rendah bunda Tita di ujung kanan sana ketika bercerita. Sesekali bunda bercerita dengan nada riang, kemudian menjadi pelan kemudian bunda mulai mengusap matanya yang sedikit berair.
"Bunda Tita kenapa ya?" tanyaku dalam hati, aku mencoba lebih berkonsentrasi mendengar penggalan-penggalan cerita yang dituturkan bunda. Yang dapat kutangkap, nama Reza adalah tokoh utama dari kisah yang bunda ceritakan. Sampai pada saat bunda mengatakan hal ini,
"Reza itu anak baik, banyak yang sayang Reza, sekarang banyak juga yang kehilangan Reza."
Air mataku tak terasa merembes begitu saja, aku terus menyenandungkan lagu-lagu yang dinyanyikan om Duta sambil mengalihkan pandanganku pada jalanan Jogja. Kupandangi sebuah universitas yang sejalan-jalan belum pula kudapati akhirnya, UGM, sungguh ini kali pertama aku melihatnya, ditemani dengan kisah menyayat hati seorang pemuda yang tahun lalu atau beberapa tahun yang lalu ikut serta dalam berjuang mencapai cita-cita didalamnya, yang kini telah Allah panggil kedalam haribaanNya. Sepintas aku melihat kearah bunda dan kulihat bunda berusaha keras untuk menghapus air mata itu, mencoba untuk mereset mood yang dengan seketika menjadi tenang dan siap melanjutkan jalan-jalan kami sebelum kembali ke kota masing-masing.
***
Ambarukmo Plaza, Jogja.
Sekitar jam empat kurang kami berlima sampai di Amplaz, destinasi pertama tentu saja Gramedia, seakan belum puas dengan hadiah buku yang tadi kami dapat, masih tetap saja menikmati ribuan buku yang tertata rapi di rak-rak itu dapat memberikan rasa tentram somehow. Setelah berkeliling, kami duduk di bangku yang ada didepan toko-toko. Valya asyik dengan lilin playdough yang barusan dia dapatkan dari hasil 'merampok' sang mama, kalo engga dibeliin, bisa saja senjata rahasia berbahaya itu ia keluarkan, haha, you know lah, nangis sekenceng-kencengnya, hahay, pernah kecil kan dulu? :D
Valya yang dari sejak di stasiun Tugu kemarin sudah bertemu dengan kami memang pendiam, dia tak banyak bicara, dan sedikit tertutup menurutku, tak mudah untuk didekati. Dan waktu dia mulai membuat bentuk-bentuk abstract dari lilin berwarna oranye itu, aku merasa tergelitik dan mencoba pedekate dengan menunjukkan skill membuat bentuk-bentuk kue, hewan dan bentuk-bentuk lainnya, dan benar saja, jurusku berhasil. Saat aku mulai membentuk manusia salju yang kuberi rambut-rambut panjang, Valya tertawa geli melihatnya, yess, berhasil, teriakku histeris dalam hati. Akhirnya aku bisa merebut perhatiannya juga hehe. Dan hingga perjalanan pulang Valya terus saja memintaku membuatkan aneka ragam bentuk dari lilin warna-warni itu.
Adzan Maghrib berkumandang, kami pun melanjutkan perjalanan untuk mampir membeli oleh-oleh, ohiya, hanya ada satu foto yang bisa dijadikan oleh-oleh dari Amplaz, foto ini juga aku ambil dari blog bunda Tita, maaf bunda ngga permisi dulu udah main post :D
Bakpia yang diidamkan bunda telah didapat, saatnya kami pulang. Pukul sembilan malam aku dan mas Rauf berpamitan menuju Solo. Terima kasih untuk sisa liburan sore ini ya bunda Tita, mba Mab dan Valya. Semoga Allah juga senantiasa melapangkan rezeki, terutama untuk bunda Tita, dilapangkan pula hatinya, semoga dapat segera menyelesaikan buku Biografi mas Reza, agar dapat meginspirasi para pemuda, tak luput juga para orang tua agar bisa menjadi orang tua yang luar biasa seperti bunda, yang melahirkan generasi luar biasa pula seperti halnya almarhum mas Reza, aaamiin.
Jogja, sebuah kota dengan berjuta kenangan dan kerinduan. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan. Terima kasih ODOP, karena telah mempertemukanku, mengenalkanku pada sosok-sosok yang inspiratif, dan luar biasa dapat menjadi teladan bagiku. Semoga niat baik Bang Syaiha dalam mendirikan ODOP, menghasilkan berkali lipat kebaikan dan dapat menyebarkan lebih banyak lagi kebaikan bagi nusa, bangsa, dan agama.
FIN ....
Enaknya diceritain juga ngga gimana perjalanan pulang malam itu, dari Jogja ke Solo, terus dari Solo ke Semarang? :D Ngga tau deh, segini dulu aja dah. Next time kali ya aku ceritain. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan untuk mengikuti tulisan ini sampai episode terakhir, semoga ada hal baik yang dapat diambil :)
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode10

Keren. Tuntas deh bacanya.
BalasHapus