Langsung ke konten utama

Debar Kopdar the Series #SemarangSolo



Semarang, 3 Maret 2018
08:33

Aku beberapa kali berjalan berjinjit pagi itu, aspal didepan rumah masih basah, genangan-genangan itu sudah membuka lebar mulutnya untuk menangkap basah sepatuku, hap, aku meloncat ke jalan yang tak bergenangan. Kumohon genangan, hari ini aku tidak sedang ingin bermain-main bersama kalian, hari ini aku kenangan, bukan genangan.  Aku ingin sekali  merajut ribuan meter kenangan. Sepertinya menyenangkan, tapi tetap saja, tak ada yang lebih membuat perempuan ini lebih senang dari apapun di dunia kecuali tempurungnya. Sudah, lupakan tempurungmu untuk hari ini saja, kumohon.

Aku berangkat dari Genuk menumpang seorang bapak-bapak bermobil oranye, baik sekali bapak itu mau mengantar aku sampai depan RSI Sultan Agung, rumah sakit yang masih satu yayasan dengan kampus tempat aku menimba ilmu. 

"Kiri, pak." kataku sembari memberikan dua lembar uang dua ribuan kepadanya. Terima kasih bapak tukang angkot, berkat bapak aku bisa sampai disini. 

Satu bus jurusan Semarang-Solo lewat didepanku, kemudian sepuluh menit kemudian bus yang lain menyusul, dan sepuluh menit kemudian bus ketiga menyusul. Kenapa pula aku tak segera naik kedalam bus-bus itu? Asal kalian tahu, aku sedang menunggu. Aku menunggu rekan seperjalananku. Saat aku sudah hampir sampai di sebrang rumah sakit, dia memberi kabar bahwa dia baru akan berangkat. Well, aku sudah terbiasa menunggu. Aku tak pernah mengulur waktu saat berjanji. Karena aku tahu, menunggu sangat tidak menyenangkan. Dan aku sudah biasa juga menunggu kehadirannya pada hari-hari dalam sepekan untuk kegiatan Tutorial Bahasa Arab di kampus. Tak apa, aku jadi bisa mengulur waktu untuk cepat-cepat meninggalkan kota ini, setidaknya hal itu sedikit bisa meredakan debaranku. 

Bus ke empat sudah mulai terlihat di pertigaan terminal, kemudian satu pesan kuterima,

"Aku udah nyampe." begitu bunyi pesan itu.

Oke jadi kali ini aku bisa naik bus yang sudah hampir mendekat itu, karena tempat menunggu kita tidak sama, aku kirimkan spesifikasi bus yang aku tumpangi kepada mas Rauf. Setelah beberapa menit berjalan, di ujung jalan menuju ke jalan bebas hambatan, mas Rauf melambaikan tangan, memberi tanda agar bus berhenti sejenak. Ah, itu dia rekan seperjalananku. 

Tak banyak berbicara seperti biasa, mas Rauf duduk di seberang deretan kursi disebelahku. Aku juga tidak sedang ingin banyak berbicara, dan memang sudah seperti biasanya aku seperti itu. Aku adalah orang yang cenderung suka mendengarkan dan mengamati. Karena terlahir dari keluarga yang tak banyak bicara pula, jadilah aku yang tak gemar berbicara. Aku lebih memilih menenggelamkan pandanganku pada pepohonan di pinggir jalan, langit yang mulai cerah, dan puluhan bangunan baru yang sudah lama tak aku jumpai sejak terakhir aku melakukan perjalanan ke Solo tahun lalu. Banyak pula bangunan-bangunan yang direnovasi. Indah. Semuanya indah. 

Seperti biasa, jalan di Ungaran selalu padat sehingga menghambat laju perjalanan kami. Dan setiba di terminal Bawen, aku mulai merasa mengantuk, karena dari semalam aku belum sempat memejamkan mataku. Namun belum lama terpejam goncangan demi goncangan bus membuatku urung untuk kembali memejamkan mataku. Masih ada terminal Tingkir, terminal Boyolali, dan terminal Kartasura sebelum kami sampai di pemberhentian bus terakhir. Terminal Tirtonadi. Dari terminal itulah, petualangan yang semakin mendebarkan itu dimulai ....

to be continued

#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi. Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku ...