Langsung ke konten utama

Debar Kopdar the Series #LittleAngle

Setelah kami semua, aku, mba Mab, mba Nova, bunda Tita, dan Mas Rauf selesai shalat Ashr, mba Nova segera memesan Grab untuk mengantarkan kami ke penginapan yang berlokasi di Langenastran Kidul. Perempuan dalam tempurung ini sudah tidak takut lagi, aku mendapatkan sebuah tangan untuk digenggam. Tangan itu milik seorang anak laki-laki yang tampan, dia adalah Rafa, anak mba Nova. 

Rafa anak laki-laki yang ceria, pandai bergaul, dan energik. Sangat mudah membuat anak laki-laki itu tersenyum kepadaku, dan hal itu membuatku nyaman. Seandainya tidak ada tangan kecilnya, mungkin aku akan masih merasa keseipian dan segera ingin kembali ke tempurungku. Sedikit yang kutahu tentang Rafa, dia senang bermain dan mempunyai banyak koleksi mainan dirumahnya.

"Aku bawa robot transformer sama mobil satu," tuturnya kepadaku setelah aku mengarahkan pembicaraan pada robot mainan. Sama seperti adik laki-lakiku ketika masih kanak-kanak, Rafa memainkan robot-robot itu bertarung satu sama lain, dan saat aku tanyakan tentang robot dan mobil mainan yang dia bawa,

"Jadi robot transformernya naik ke atas mobil ya?", dia malah tertawa terbahak-bahak. 

"Ya ngga bisa, mobilnya kan kecil, cuma setinggi lutut robot transformernya." Ahh, pintar sekali Rafa ini, dia bahkan sudah bisa menggunakan nalarnya diusia yang sangat kecil, kelak pasti kamu akan jadi anak yang hebat Rafa. 

*** 


Finally, sampai juga di Langenastran Guest House. Kami bertujuh disambut oleh seorang laki-laki gagah yang kudengar nama beliau adalah Kang Heru, sedikit yang ku tahu tentang beliau, beliau menggemari filsafat kejawen, jujur saja aku belum sempat membaca artikel-artikel yang beliau tulis, jadi tidak banyak yang bisa aku tuliskan disini. Sore itu baru kang Heru beserta istri dan mba Hiday beserta suami dan kedua anak beliau, mba Juni dan Uni Risa yang telah tiba di penginapan sebelum kami. 

Melihat beberapa foto yang dibagikan di WAG pagi ini, sebagian yang telah tiba di jogja sedang berjalan-jalan kebeberapa obyek wisata disekitar Jogja, lagi-lagi aku belum tahu siapa saja mereka. Yang aku dengar, mereka adalah mba Sakifah, mba Irene, mas Septian, mas Lutfi, mas Alfian, dan mas Fadli. 

Debarku sudah tidak begitu terasa, setelah disambut oleh kang Heru, kami kemudian langsung diantar ke kamar-kamar yang bisa kami tempati untuk beristirahat malam ini. Ada empat kamar dan dua kamar mandi di rumah singgah ini. Alhamdulillah, ada dua kamar mandi, jadi kami tidak perlu antri terlalu lama untuk membersihkan diri. Didalam rumah singgah sudah ada mba Hiday, mba Juni dan Uni Risa menyambut kami, kami saling memperkenalkan diri, terutama aku, harus menghafalkan dengan baik wajah-wajah beserta nama beliau dalam waktu singkat. 

Ketika kami datang, sepertinya mba Hiday sedang membicarakan tentang bagaimana tulisan kita bisa diterbitkan. Mba Hiday memberikan rekomendasi kepada kami beberapa home publishing  yang tidak merugikan bagi penulis yang belum begitu dikenal oleh publik, dimana sistem keuntungan  bagi penulis tidak menggunakan royalti dari publisher nya akan tetapi laba bisa diatur sendiri oleh sang penulis. 

Tapi apalah dayaku, setelah perbincangan itu aku tidak begitu memahami apa yang mba Hiday paparkan pada kami, 

"Istilah kepenulisan saja masih banyak yang tidak aku mengerti, ilmu-ilmu kepenulisan yang kudapat dari kelas ODOP juga belum berhasil aku aplikasikan dengan maksimal, mendengar pembahasan para senior benar-benar membuatku merasa berdiri didepan sebuah hutan belantara." Aku sibuk berbincang dengan diriku sendiri, sampai aku menemukan satu sosok gadis cantik yang mengembalikan kesadaranku yang beberapa menit lalu hanyut dalam lamunan bertopengkan wajah dengan tatapan kosong.

Aku duduk diruang tamu dan gadis kecil itu tidak seperti anak kecil pada umumnya, khususnya tidak sepertiku, karena dia dengan percaya diri menghampiriku, dengan senyum yang masih sedikit ragu. Di umurku yang sekarang ini, bahkan aku mungkin tidak akan pernah bisa seberani dia, aku benar-benar pemalu. Yang kutahu, gadis kecil cantik ini adalah putri dari mba Hiday.


"Halo," sapaku, "Namanya siapa?"

"Aisyah." gadis kecil itu menjawab.



Setelah mendapat respon yang baik, aku bertanya tentang kesibukannya kemudian dia bercerita tentang hal-hal yang dia lakukan di sekolah. Berbincang dengan Aisyah membuatku teringat dengan adik perempuanku dirumah, Khansa. Mereka berdua mempunyai beberapa kesamaan, pintar, pandai berbicara, dan cepat menghafal. Karena setelah bercerita tentang sekolahnya, aku menanyai Aisyah beberapa pertanyaan dan subhanallah, pintar sekali Aisyah ini.

"Aisyah hafal hadits larangan marah?" tanyaku, kemudian dengan segera ia menjawab.

"Laa tagdhob wa lakal jannah, jangan marah maka bagimu surga." Seandainya kalian ada disana, kalian pasti akan terkagum mendengar Aisyah menjawab pertanyaanku tentang hadits-hadits dan do'a sehari-hari yang dia hafal dengan sangat baik.

Tak berapa lama, kamipun akrab, aku mengajaknya berkeliling melihat bunga yang ada disekitar penginapan. Aisyah,yang setelah itu kutahu mempunyai julukan Kazumi adalah anak yang cerdas. Hari itu aku bertemu dengan dua malaikat kecil yang sangat menyenangkan. Kemudian aku berpikir, suatu saat nanti aku ingin menjadi ibu seperti mba Hiday dan mba Nova, karena telah berhasil mendidik putra putri nya dengan luar biasa, terbukti dari sikap anak-anak itu yang dapat aku amati. 

Disamping menjadi ibu yang sukses, beliau-beliau pun tetap bisa terus berkarya dan tidak berhenti menulis meski pekerjaaan menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan terberat dengan tanggung jawab yang luar biasa besar. Sungguh, suatu hari nanti aku harus bisa menjadi ibu yang hebat seperti mba Hiday, mba Nova, bunda Tita. 

Menjelang shalat Maghrib, terdengar keramaian dipintu masuk penginapan, siapakah gerangan dua perempuan cantik yang baru saja datang itu? 

to be continued ....

#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi. Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku ...