Sepur Pramex Jurusan Solo-Jogja
14:00 WIB
Aku berada di gerbong yang mempunyai tanda female di samping pintu masuknya, berarti ini gerbong khusus wanita. Masuk di gerbong pertama aku menghentikan langkah, disamping tidak tahu harus mencari atau berhenti di gerbong ini, aku lebih yakin pada pilihan pertama, meski gerbong ini sudah penuh saat aku datang,
"Paling juga akan penuh seperti ini semua di gerbong-gerbong yang lain, lagi pula aku sudah lelah dan malas untuk berdesak-desakkan mencari bangku mana yang masih bisa diduduki, biar aku berdiri saja." Pikirku. Saat kereta sudah mulai berjalan, semua penumpang yang berdiri bersamaku seketika duduk di lantai kereta, di menit pertama mereka tengah asyik berselancar pada masing-masing gawai, kemudian setelah belasan menit berjalan, beberapa mulai memperhatikanku,
"Kenapa dia tidak duduk saja di lantai daripada capai berdiri seperti itu?" Begitulah aku mengartikan bahasa tatapan mata mereka. Benar, aku bisa saja duduk di lantai kereta, akan tetapi aku tidak membawa rok ganti selain yang akan aku pakai untuk besok, jadi aku memilih berdiri saja karena aku harus memakai rok ini untuk shalat Ashr, Maghrib, 'Isya, dan Shubh besok.
Kereta melaju perlahan, ada beberapa kenangan yang ingin aku putar kembali saat melewati salah satu rumah di daerah Klaten yang nanti akan dilewati kereta ini. Sebuah rumah sahabat yang pernah aku sambangi rumahnya, dan bermalam disana beberapa kali sebelum aku kembali ke Semarang untuk selamanya.
"Ah itu dia, tidak banyak berubah warna rumah dengan pagar tinggi disamping rel kereta itu, hanya cat gerbang rumah yang kini berwarna biru, beberapa tahun yang lalu ketika aku berkunjung warna catnya masih hijau. Aku ingat Lu'lu' mengajakku berjalan ditengah rel selepas subuh, melempari batu ke sungai dibawah jembatan rel kereta disamping rumahnya. Hanya lewat, setidaknya hal itu bisa sejenak menerbangkan memoriku ke masa lalu dan membantuku meluruhkan sedikit rindu."
Satu lagi hal yang membantuku menepis rasa lelah berlarian di sky bridge tadi adalah, aroma sesawahan yang terhampar didepan pandangku, hijau, indah, menentramkan. Pemandangan yang selalu berhasil menarik simpul bibirku untuk terkagum, tersenyum, karya yang dilukiskan oleh Sang Maha Pemilik Keindahan, "Subhanaka maa kholaqta haadza baathilaa" doa yang terus terucap dihatiku sepanjang perjalanan. Terima kasih Allah, untuk memberiku kesempatan menikmati pemandangan sawah dan perbukitan di kota Klaten menuju Jogja hari ini.
"Ah itu dia, tidak banyak berubah warna rumah dengan pagar tinggi disamping rel kereta itu, hanya cat gerbang rumah yang kini berwarna biru, beberapa tahun yang lalu ketika aku berkunjung warna catnya masih hijau. Aku ingat Lu'lu' mengajakku berjalan ditengah rel selepas subuh, melempari batu ke sungai dibawah jembatan rel kereta disamping rumahnya. Hanya lewat, setidaknya hal itu bisa sejenak menerbangkan memoriku ke masa lalu dan membantuku meluruhkan sedikit rindu."
Satu lagi hal yang membantuku menepis rasa lelah berlarian di sky bridge tadi adalah, aroma sesawahan yang terhampar didepan pandangku, hijau, indah, menentramkan. Pemandangan yang selalu berhasil menarik simpul bibirku untuk terkagum, tersenyum, karya yang dilukiskan oleh Sang Maha Pemilik Keindahan, "Subhanaka maa kholaqta haadza baathilaa" doa yang terus terucap dihatiku sepanjang perjalanan. Terima kasih Allah, untuk memberiku kesempatan menikmati pemandangan sawah dan perbukitan di kota Klaten menuju Jogja hari ini.
***
Stasiun Tugu, Ngayogjakarta.
15:15 WIB
Sampailah kami dipemberhentian terakhir, Stasiun Tugu. Setelah mengirim laporan bahwa kami sudah sampai, sebuah jawaban dari akun bernama Nova memberitahukan bahwa mba Mab juga sedang berada di Tugu, kemudian akun lain bernama Tita Dewi Utara menambahkan,
"Saya sama mbak Nova 15 menit lagi sampai." Jadi beliau berdua berangkat bersama, begitulah yang dapat aku simpulkan. Tanpa tahu, dan belum tahu bagaiamanakah sosok ketiga nama yang katanya akan tiba di stasiun di waktu yang hampir bersamaan dengan kami. Kakiku melangkah pelan namun pasti dan mataku tak henti berkeliling. Menerka, manakah dari ribuan orang di stasiun sore ini yang menjadi empu dari tiga nama yang sebentar lagi kutemui. Kami segera menuju musholla, karena katanya mba Mab sudah berada disana.
Sambil bergantian menjaga tas kami, saat mas Rauf akan ke tempat wudhu, aku menangkap dua sosok wanita cantik saling bertegur sapa dengannya. Kemudian aku berjalan menghambur ke kerumunan kecil yang menggambarkan reuni kecil teman lama, tapi ekspresi di wajah kesemuanya masih mencoba untuk mengenali satu sama lain, inilah satu hal luar biasa yang kutangkap dari kopdar pertama One Day One Post. Setelah bertahun-tahun saling bertukar dan berbagi ilmu, membahas segudang ilmu kepenulisan dalam sebuah WAG, hari ini, mereka dapat bertemu, berbincang, memandang, dan saling mendengarkan secara nyata, sungguh ada rasa haru melihat pemandangan kecil itu, meskipun aku sendiri masih sangat asing dengan mereka, bahkan belum banyak yang kutahu dari semua odopers yang akan hadir nantinya, tetap saja, pertemuan itu mengalirkan sebuah rasa yang hangat kedalam hatiku.
Satu hal yang membuat rasa sesal perempuan dalam tempurung ini melebur karena telah meninggalkan tempurungnya. Pengalaman pertemuan keluarga jauh yang hangat, sehangat mentari sore Jogja di stasiun kereta Tugu.
to be continued ....
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode5
Sambil bergantian menjaga tas kami, saat mas Rauf akan ke tempat wudhu, aku menangkap dua sosok wanita cantik saling bertegur sapa dengannya. Kemudian aku berjalan menghambur ke kerumunan kecil yang menggambarkan reuni kecil teman lama, tapi ekspresi di wajah kesemuanya masih mencoba untuk mengenali satu sama lain, inilah satu hal luar biasa yang kutangkap dari kopdar pertama One Day One Post. Setelah bertahun-tahun saling bertukar dan berbagi ilmu, membahas segudang ilmu kepenulisan dalam sebuah WAG, hari ini, mereka dapat bertemu, berbincang, memandang, dan saling mendengarkan secara nyata, sungguh ada rasa haru melihat pemandangan kecil itu, meskipun aku sendiri masih sangat asing dengan mereka, bahkan belum banyak yang kutahu dari semua odopers yang akan hadir nantinya, tetap saja, pertemuan itu mengalirkan sebuah rasa yang hangat kedalam hatiku.
Satu hal yang membuat rasa sesal perempuan dalam tempurung ini melebur karena telah meninggalkan tempurungnya. Pengalaman pertemuan keluarga jauh yang hangat, sehangat mentari sore Jogja di stasiun kereta Tugu.
to be continued ....
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode5

Komentar
Posting Komentar