Semarang, 1 Maret 2018
H-2 kopdar. Debar makin menggelegar. Hampir satu minggu tidurku tak nyenyak. Sebentar terbangun, sebentar tertidur, banyak resahnya, makin kuat rindunya. Sebelum tidur aku selalu membuka grup yang diberi nama Kopdar Jogja #1 2018 sambil melihat satu persatu foto member yang ada, debarku semakin menjadi ketika memandang setiap foto yang menunjukkan wajah sang pemilik nomor dengan jelas,
"Ini baru gambaran dua dimensi nik, dalam hitungan hari mereka akan nyata, sosok mereka akan tepat berada didepan mata. Mereka bukan lagi sekedar teks-teks chatting yang maya. Yang aksen, logat dan suaranya tak pernah bisa kamu terka." Begitu aku menimang-nimang diriku sendiri dalam jeda lamunan pengantar tidur. Dan alhasil, itulah yang membuat malam-malam menjelang kopdarku semakin berdebar.
Kamis siang itu kuliah pertamaku selesai qobla dzuhr, dan mata kuliah kedua masih akan dilaksanakan selepas shalat ashr. Thursday is a long boring waiting day ... Waktu shalat dzuhur masih beberapa menit lagi, aku mengirimkan pesan kepada mentor sekaligus senior yang menawariku untuk berangkat kopdar bersama,
"Mas, kereta ke Solo berangkat jam pinten?" tanyaku.
"Jam 9 nduk. Mau berangkat kapan? Dan sama siapa?" begitulah jawaban dari mas Mentor.
Sedikit terkejut dengan jawabannya, kenapa dia bertanya aku akan berangkat dengan siapa? Saat itu aku berpikir, mungkin ini waktu yang tepat untuk beralasan tidak jadi ikut acara besok. Tapi lagi-lagi, jariku bahkan tak sanggup untuk merangkai beberapa alasan yang sedikit masuk akal untuk menyatakan urung niatku.
"Sial, seandainya aku lebih lihai berdalih." begitu rutukku dalam hati.
Dan obrolan chat siang itu berakhir pada kesepakatan keberangkatan kami. Oh Allah, one step closer, mohon redap sekejap debarku ....
***
Semarang, 3 Maret 2018
Malamnya aku tertidur selepas isya', dan terbangun sekitar 23.30. Jadilah aku terjaga sepanjang malam. Hanya tinggal beberapa jam lagi aku akan membawa pergi tubuh tanpa tempurungku. Mampukah aku?
Aku menanti datangnya mentari, yang mungkin dapat sedikit membantu menghangatkan rasa dingin yang menyelimuti. Tapi nampaknya pagi ini matahari juga kedinginan sepertiku, ia muncul menggunakan mantel tebal awan hitam diatas sana. Kemudian hujan ...
Entahlah, mungkin Allah berpihak kepadaku hari ini. Menurunkan hujan yang begitu deras, dan aku yakin siapapun akan mengurungkan niatnya untuk pergi kemanapun, memilih bersantai dibawah balutan selimut hangat, sambil membaca atau sekedar menonton berita di televisi. Tapi pukul 9 hujan mengibarkan bendera putihnya, pertanda bahwa ia menyerah dan akan segera pergi. Yahh,,, jadi pergi dong ya ...
Jadilah aku berpamitan kepada bapak dan ibu, dengan bekal restu dan doa agar aku selamat sampai tujuan...
Jogja, I'm comiinggg ....
to be continued ....
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #PartTwo

Komentar
Posting Komentar