Semarang, 23 Februari 2018
"Ikut kopdar akbar?", Satu pesan mendarat di handphone-ku.
Sejenak aku kembali berpikir, untuk mengulang lagi keputusan yang kubuat untuk menghadiri acara itu. Apa yang bisa dilakukan dan dikatakan perempuan dalam tempurung ini kepada orang-orang yang dirinduinya tapi rasa takut pada pertemuan itu lebih besar dan begitu seram menghantui malam-malamnya? Aku memutar kembali, berdiskusi dengan hati dan pikiranku mencoba mendamaikan keduanya agar segera memutuskan apa yang harus aku kirimkan sebagai jawaban.
"Pengenn." Jawabku singkat, kutambahkan satu lagi "n" agar sang penerima pesan merasa bahwa aku sangat ingin menghadiri acara itu, padahal diskusi panjang hati dan pikiran perempuan dalam tempurung ini masih bersitegang, belum menunjukkan tanda-tanda perdamaian.
"Ayo. Mau bareng kagak?". Beberapa detik kemudian ia membalas.
Ya Allah, akhirnya dia menawariku untuk berangkat bersamanya. Kalian tahu? Kelemahanku adalah, aku tidak pernah bisa menolak siapapun. Apalagi menolak ajakan orang yang aku kenal. Mustahil untuk menolaknya jika tidak ada alasan real untuk diutarakan. I bet, I'll really feel so bad if I make some bullshit excuses. I can't lie. I really bad on doing that thing. Detik-detik menuju menit berikutnya pun terasa berjalan begitu lambat. Bagaiamana ini? Jawaban apa yang harus kuberikan?. Beberapa kali aku menghela nafas panjang, dan akhirnya aku mengetik dua kata, dan kutekan tombol kirim.
"Mau mas." Setelah itu aku linglung. Sejenak aku masih tak mempercayai jawaban yang barusan kukirimkan. Kemudian pesan-pesan berikutnya aku kirimkan dengan setengah kesadaran. Ada rasa sesal, sedikit sekali rasa sesal, karena lagi-lagi aku harus menjalani suatu hal yang nantinya aku tahu adalah hal yang luar biasa, tapi aku harus mengawalinya dengan setengah hati.
Aku pun tak berani berkespektasi, andai saja aku benar-benar akan sampai di lokasi kopdar itu, bagaimana aku membaur, menyatu dan melebur bersama mereka, karena selama ini aku belum pernah berhasil melakukannya. Tempurungku terlalu nyaman, satu-satunya tempat ternyaman yang pernah ada. Didalamnya aku sering memutar vidio-vidio dari semasa aku kecil hingga kini , yang banyak kugunakan untuk asyik sendiri dalam dunia imaji ku.
Kemudian aku beranjak dari tempat tidurku, mencari kesibukan di siang itu agar bisa kulepas sejenak rasa panik atas jawaban tak masuk akal yang barusan kuberikan kepada sang penerima pesan. Kalian tahu? Agama kita sangat menganjurkan untuk Berpikir sebelum bertindak, dan itu lah gambaran meyedihkanku pada siang itu, seorang perempuan sembrono, ceroboh, yang selalu membutuhkan waktu lama untuk menaklukan perdebatan hati dan pikirannya. Aku sangat berharap bahwa saat itu aku bisa melipat waktu menuju tanggal 5 Maret secara langsung ....
to be continued ....
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #PartOne

Lanjuut
BalasHapus