Langsung ke konten utama

Debar Kopdar the Series #TheOpening

Sabtu, 3 Maret 2018

Ada sedikit perubahan run down  malam itu, setelah hasil musyawarah, kami membatalkan acara yang seharusnya diadakan di kafe Basabasi, dan lebih memanfaatkan waktu untuk mengakrabkan satu sama lain di penginapan saja. Seharusnya makrab harus bisa dilaksanakan selepas Isya', akan tetapi para rombongan pemuda tak kunjung pulang dari alun-alun, memang laki-laki itu selalu seperti itu kan, tidak merasa kalu ditunggu, hahay. Bukan segera pulang, mereka justru membombardir WAG kopdar dengan foto-foto mereka. Inilah wajah para tersangka itu :D


Mendekati Isya' , rumah singgah khusus putri kembali dihebohkan dengan kedatangan satu member lagi, kudengar namanya mba Ciani. Nama yang lucu, selucu orangnya. Mba Ciani mempunyai suara yang cempreng seperti anak kecil, dan saat bertemu dengan anak kecil, sifat kekanakannya akan semakin menjadi pula, hmmm gemes pokonya. Karena hanya kamar yang aku tempati yang masih mempunyai sisa ranjang, segera saja mba Ciani meletakkan barang-barangnya dikamar kami, roommate semalam ceritanya.

Kami melanjutkan obrolan didapur sambil menunggu yang masih jalan-jalan pulang. Kami mengobrol dan nyambi memasang properti untuk photobooth besok. Saat itu rasanya masih dingin, sedikit dingin. Tak banyak yang keluar dimulut kami, hanya lebih terfokus memasang dan menempel beberapa quotes  diatas kayu yang tersedia. Setelah selesai terpasang semua, mba Saki mengajak kami untuk selfie menggunakan properti yang sudah kami buat. One, two, three and smilee :)


"Sudah pada makan belum?" Tanya mba Saki, "Kalau belum, tadi aku bawa nasi sama lauk, kita makan bareng yuk." Jadilah aku, mba Saki, mba Rene, Uni Risa dan mba Ciani makan satu bungkus nasi berlima, dan entah kenapa, rasa dingin tadi sedikit mencair. Benar-benar, dalam kebersamaan itu pasti ada sebuah keberkahan. Selang beberapa saat kemudian tepatnya pukul 20:00 para rombongan yang pergi ke alun-alun datang, kami pun segera berkumpul di serambi yang tersedia ditengah penginapan untuk saling memperkenalkan diri satu sama lain, dan membahas ulang run down yang akan dilaksanakan besok.

Malam itu, makrab yang dibuka oleh mas Septian Wijaya, akhirnya aku lihat juga wujud aslinya, dan dilanjutkan oleh mas Heru berlangsung santai, seperti biasa, mba Saki andil dalam memimpin acara sebagai moderator. Dan setelah pertimbangan beberapa hal, acara kopdar besok yang seharusnya diadakan di Sambisari harus dibatalkan. Karena kendala transportasi, yang semula sudah disiapkan oleh mba Juni tiba-tiba harus diservis, kemudian pertimbangan jalanan Jogja dihari Ahad yang pasti akan padat juga, akhirnya diputuskan bahwa acara kopdar akan dilaksanakan di penginapan saja. Dan menurutku itu lebih menghemat waktu, dan tidak kemrungsung  karena tidak perlu berpindah ketempat yang lumayan jauh juga. 

Mba Hiday juga memberi usul, agar acara inti besok membahas tentang 'Akan jadi apakah saya setelah lulus dari ODOP' dan beberapa hal urgent yang bersangkutan dengan peningkatan kualitas ODOP. Setelah perombakan run down selesai, acara berikutnya adalah perkenalan. Ini yang selalu membuatku sedikit gemetar, berbicara didepan umum. 

Dalam sesi perkenalan kami diperkenankan memperkenalkan nama, nama pena, dan ciri khas dalam menulis kami. Kami mendengar dengan seksama, terkadang mas Heru dan pakdhe Wali menimpali dengan joke ketika satu diantara kami sedang memperkenalkan diri, kemudian gelak tawa memecah hening malam yang semakin larut. Hangat. Aku merasa semakin hangat diantara orang-orang yang beberapa jam lalu masih sangat asing bagiku. Aku bahkan sudah mulai lupa dengan tempurungku. Aku, dalam waktu sekejap telah menyayangi kalian. Ajaib sekali.

Malam semakin larut, pembukaan kopdar malam ini ditutup. Dan beberapa dari kami langsung kembali ke kamar untuk beristirahat. Saat aku sudah membaringkan tubuhku diatas ranjang, aku masih mendengar bunda Tita masih menjelaskan tentang brownies, cupcake dan muffin. Suara bunda Tita semakin samar, kemudian aku jatuh terlelap ....

to be continued ....

#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi. Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku ...