Langsung ke konten utama

Debar Kopdar Prologue



Hai, aku adalah perempuan dalam tempurung yang kemarin. Perempuan yang nyaman dengan dunianya, tapi bukan dunia lain dimana aku bercengkrama pada langit sore, dan tersenyum mendengar candaan para bintang malam. Oh trust me, I'm not insane, aku hanya lebih 'nyaman' bersembunyi didalam tempurung :D
Ikutan kopdar akbar?
Satu pesan yang menggoyahkan urungku untuk menghadiri acara tersebut. Seorang pembimbing yang selalu membuatku merasa, ah, ada seseorang yang mempercayai bahwa aku bisa melakukannya. Dan disinilah aku, duduk di salah satu bangku bis kota jurusan Semarang-Solo untuk meredakan debar jantungku yang sudah sepekan membuat tidurku tak tenang. 

Kak Fadli yang khas dengan puisi romantisnya, Aa Gilang yang dengan ajaibnya merubah laju jalan seseorang yang begitu biasa menjadi jenaka, Mbak Sakifah yang selalu wise, dan sederetan nama peserta kopdar yang aku belum bisa menerka bagaimana wajah, cara berbicara dan suara yang sangat ingin kutangkap melalui pendengaranku secara langsung, mendengar suara mereka yang selama ini hanya bisa kudengan melalui ribuan pesan chat dari beberapa grup. Aku sangat menginginkan kalian semua nyata dalam pandanganku, tapi rasanya menyebalkan karena hatiku tak henti-hentinya berdegup tak karuan. 

Perjalananku hingga penginapan di Langenastran belum begitu mengesankan, karena aku lebih banyak diam menikmati pemandangan sesawahan sepanjang Solo-Jogja. Hanya saat tadi ketika berada si stasiun Tugu, pandanganku yang haus akan nyata mereka sedikit terbayar. Aku yang telah bertekad melepas dan meninggalkan tempurungku di lemari kamarku, berhambur menyapa tiga wanita cantik yang pada jam disaat aku turun dari kereta telah berada di lokasi pertemuan kami untuk yang pertama kalinya. Bunda Tita, mba Nova, dan juga mba Mab. 

Dan sore itu hanya sebatas pemuas pandang, karena aku masih saja mengadaptasikan diriku yang bertelanjang sejauh ini dari tempurungku. Aku rasa satu pertemuan ini tak akan cukup untuk menggambarkan seluruh kisah luar biasa, salah satu yang sangat luar biasa dalam hidupku tentunya, secara mendetail ...

Baiklah, aku berhutang kelanjutan cerita ini kepada kalian ... Mungkin suatu saat nanti kalian akan berniat melepaskan tempurung juga sepertiku, untuk menemukan cangkang kekeluargaan yang jauh lebih hangat dari cangkang 'menyendiri' yang selalu diagungkan.

to be continued ....

#OneDayOnePost #ODOPBatch5

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi. Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku ...