Langsung ke konten utama

Debar Kopdar the Series #KopdarODOPBagianPertama

Detik-detik proklamasi akan segera diteriakkan lantang, sehingga para penjajah yang mendengar dari lautan, udara dan daratan akan gentar dan berbalik, lari terbirit ke kampung halaman mereka. Eh, salah redaksi, itu nanti buat cerita lain yang bakal aku tulis, maaf keceplosan :D Padahal aslinya mau nulis detik-detik acara inti kopdar akan segera dimulai, kami semua telah siap, bersiap di serambi penginapan. Gamis, rok, dan baju penuh warna bagaikan ikut serta merasakan kemeriahan pagi ini. Aku? Tentu saja aku menggunakan gaun ungu kebanggaanku. Entah kenapa aku merasa hariku akan lebih baik, dan selalu menjadi baik ketika aku mengenakan busana berwarna ungu. Yep, ini hanya sebuah sugesti, aslinya ya memang suka aja pake busana warna ungu, hihi.




Majelis pagi ini lebih meriah dari semalam, karena selain Iput, datang juga mba Leska dari ODOP 5, teman angkatanku, ada om Wakhid Syamsudin alias om Suden dari ODOP 4, ada mba Widyanua dari ODOP 4, ada mba Tia dari ODOP 4 pula, dan aku lupa bahwa A Gilang juga sudah hadir semalam, pukul 2 pagi. Padahal sudah ada sosoknya di foto-foto yang aku post di blog sebelumnya ya, maaf A Gilang, moga aja ngga baca, kalo baca ya moga aja tidak tersungging senyumnya, eh, tidak tersinggung hatinya. Dan saat acara telah dibuka, seorang Tamu kehormatan, pikirku, karena sebelum acara dimulai, beberapa senior mengusulkan jika laki-laki ini hadir nantinya, dari kami akan memberikan sebuah apresiasi seadanya untuk beliau, beliau adalah Pak Parto, yang saat beliau sudah duduk didepanku, tepat didepanku, karena posisi duduk kami melingkar memadati serambi, aku bertanaya kepada mba Rene yang duduk disampingku tentang siapakah gerangan beliau ini, 

"Pak Parto ini penasehat di ODOP." jawab mba Rene. Aku manggut-manggut mendegar jawabannya. Kemudian mba Rene bertanya, 

"Di ODOP 5, beliau belum ngisi materi ya?"

"Belum, mba." Jawabku

"Biasanya beliau nanti ngisi materi kok, ditunggu aja." Kemudian kami kembali berkonsentrasi pada acara.

Acara dimulai dengan pembacaan tilawah dari mas Rauf, suaranya, emm, ya begitulah, suara khasnya beliau, bedanya kali ini lebih diberi nada tilawah dan lebih tartil. Kami pun hening, terhanyut dalam lantunan surat Ar-Rahman yang mas Rauf bacakan, sedikit bergetar ketika ayat sampai pada 'Fabi'ayyi aala'i robbikum maa tukaddzibaan', memang selalu menggetarkan rasa jika sampai pada ayat itu sejak dulu. Setelah pembacaan kalaamullah,  acara dilanjutkan dengan sharing dan pengarahan dari mba Hiday, beliau sedikit terburu-buru, karena harus segera meninggalkan penginapan jam 10 nanti. Mba Hiday menghimbau agar WAG ODOP dipergunakan semaksimal mungkin untuk membahas tentang literasi, dan saat kelas ODOP berakhir, dan segala rentetan tantangan terselesaikan, mba Hiday ingin agar semua yang ada di ODOP lebih terarahkan masa depan kepenulisannya, akankah menjadi seorang author atau professional blogger. Nice, padat, singkat dan mengena, begitulah mba Hiday saat telah memegang mic digenggamannya, padahal aslinya ngga ada mic sih. 

Setelah mba Hiday, pak Parto sedikit berbagi pengalaman yang disetiap ceritanya tersisip sebuah semangat yang membara. Beliau sudah sepuh, tapi semangat menulisnya patut diacungi seratus jempol, 

"yang sembilan lapan boleh ngutang?" duh, apaan sih, Nik? Oke lanjut.

"Nika, gantiin ngerekam live story dong." Tiba-tiba mba Rene menyodorkan gawai itu padaku, baiklah. Emm, sayangnya, setelah aku ditugaskan menjadi camera-woman aku sudah tidak terlalu fokus dengan yang pak Parto sampaikan, karena sibuk sendiri mengatur arah kamera dan menanggapi beberapa komentar dari odopers yang tidak dapat hadir.

Tak terasa masuklah pada sesi tukar kado yang berisi buku yang telah kami bawa dari rumah, sebelum acara dimulai, buku-buku itu dibungkus lagi dengan kertas koran dan diberi nomor diatasnya. Nomor-nomor yang telah digulung itu diedarkan kepada kita, masing-masing mengambil satu. Aku lupa mendapat nomor berapa, kalau bukan 14 ya 17, dan saat kubuka, aku hampir memekik karena terkejut, sungguh judul buku yang subhanallah berhasil membuat mataku terbelalak. Buku kumpulan cerita berjudul 'Cinta Sedarah' itu milik om Suden, tapi justru karena judul buku itu aku malah semakin penasaran. Tak sabar kubuka dan mulai kubaca, tapi kemeriahan mengalahkan fokusku. Setelah souvenir dibagikan, acara siang itu dilanjutkan dengan foto bersama, tanda bahwa kami telah memasuki acara puncak Kopdar hari ini. And here we are ...

 ODOP Batch 1

 ODOP Batch 2

 ODOP Batch 3

 ODOP Batch 4

 ODOP Batch 5





Bagaimana? Seru bukan? Dan akan berhasil menumbuhkan pohon kerinduan yang rimbun yang akan terus tumbuh hingga pertemuan bagian kedua nanti. Bagaimana dengan tempurungku? Aku bahkan sudah lupa, mereka, jauh lebih menyenangkan, dan memberi kenyamanan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. I love you all, that's all that I could say, tapi tak sampai ku ucapkan dilisanku. 

Segera setelah acara dibubarkan, kami segera berkemas, bersiap meninggalkan penginapan yang telah tertuang ribuan galon kenangan kami disana, basah, dan kuyup hingga ke setiap partikel memori di otak kami. Dengan langkah berat kami saling mengucapkan salam perpisahan, saling mendoakan agar selamat hingga tujuan pulang.

Terima kasih mba Juni dan mba Saki, telah menyambut kami dengan tangan terbuka, dengan pelukan hangat serta keramahtamahan yang tak dapat dinilai dengan materi apapun. Semoga Allah senantiasa melapangkan rezeki beliau berdua beserta keluarga, karena hanya Allah yang mampu membayarkan rasa bahagia yang kami dapat selama di Langenastran. 

Debar yang awalnya menakutkan, kini berubah menjadi debar kebahagiaan yang berbalut kerinduan dan berhiaskan kenangan menyenangkan. Semoga aku tidak cepat move on  dari debaran ini. It's time to go home ....

to be continued ...

#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #SeventhChallenge #DebarKopdartheSeries #Episode9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Debar Kopdar the Series #TheDay

Ahad, 4 Maret 2018 Alarm yang aku setel jam setengah lima pagi sepertinya tak mempan, atau bisa jadi teman sekamarku yang mematikannya. Karena aku merasa ada yang mengguncang tubuhku, memanggil namaku beberapa kali sampai akhirnya aku membuka mata. Suara yang khas seperti anak kecil itu membangunkanku dan mengajakku untuk shalat subuh bersama. Ah sudah jam lima. Setelah kami semua berwudhu, kami menggelar satu selimut didepan kamar-kamar kami yang kami gunakan sebagai sajdah , karena hanya bunda Tita yang membawa sajdah itu pun dengan ukuran yang paling kecil. Seperti tadi malam, mba Hiday yang mengimami kami shalat berjamaah.  Sesuai rencana tadi malam, kami berencana untuk berjalan-jalan di alun-alun kidul selepas subuh. Tadi malam kami merencanakan keberangkatan jalan-jalan pagi jam lima. Tapi pada kenyataannya, jam lima pula kami baru akan shalat subuh. Hal seperti ini memang sangat lumrah di Indonesia, apa yang lumrah? Jam karetnya itu lho :D  Waktu sudah menu...

Masih Tetap yang Terbaik

      Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah  pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, ...