Pagi itu Risa bersiap menuju suatu tempat. Sebulan yang lalu Risa mendapat sebuah pesan di gawainya dari seorang kawan lama, seseorang yang diam-diam telah memenjarakan hatinya dalam sosok arif dan penuh wibawa. Sudah lima tahun lamanya Risa tidak bersua dengan temannya ini. Jimmy, seorang kawan seperjuangan dalam sebuah rimba pendidikan di Universitas swasta ternama di daerah Semarang. Berawal dari diskusi konyol tentang film-film anime favorit yang tak sengaja mempunyai kesamaan, mengalirlah hubungan pertemanan itu pada diskusi-diskusi serius berkenaan dengan materi-meteri di kampus. Keduanya memiliki kecocokan dalam berdiskusi, Risa yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi dan Jimmy yang mempunyai banyak bekal pengetahuan karena hobby membacanya, adalah kolaborasi yang pas. Saat masa kuliah, banyak teman yang mengira bahwa Risa dan Jimmy mempunyai hubungan khusus, padahal pada kenyataannya tidak. Memang benar jika Risa menyukai Jimmy sejak mereka mulai dekat, tetapi Risa tak pernah mengungkapkan perasaannya, mereka berdua hanya membiarkan hubungan nyaman itu mengalir, sampai pada akhirnya mereka berdua lulus, dan Jimmy harus kembali ke kota Asalnya di Cilacap.
Jimmy yang tak pernah tahu perasaan Risa sebenarnya terhadap dirinya, hanya meninggalkan Risa dengan sebuah boneka beruang bertoga, dan sepaket senyuman manis dan lambaian tangan perpisahan. Begitulah kisah Risa dan Jimmy berakhir. Jimmy yang telah kembali ke kampung halamannya hanya beberapa bulan awal setelah kelulusan, mereka masih sering berkirim pesan. Sampai pada akhirnya rasa sungkan, dan enggan menggelayuti. Risa tak lagi mempunyai keberanian untuk sekedar bertanya hal-hal yang tidak penting. Sebuah perasaan yang kemudian Risa paksa kubur dalam aktifitas-aktifitas hariannya.
Deg.
"Pesan dari Jimmy, dia ingin bertemu denganku? Apakah aku sedang bermimpi?"
Dan hati wanita itu seketika berbunga, lenyap sudah usaha mengubur rasa yang telah ia paksa lakukan setiap harinya. Dan hari ini adalah hari itu, ribuan rasa bercampur di hatinya. Senyuman terus terkembang, sembari menyambar blouse berwarna peach yang semakin membuat kulit kuning langsatnya bersinar, Risa telah duduk di depan meja riasnya selama hampir empat puluh menit. Rambut yang sudah terikat rapi, kemudian ia gerai lagi.
"Ok, perfect."
Gumamnya setelah selesai merapikan riasannya yang sedikit dihapus karena menurutnya terlalu tebal. Risa berdandan feminim hari ini, karena dulu Jimmy sering protes dengan penampilan Risa yang tomboi, jeans belel yang dipakai sepekan penuh, sepatu kets yang jarang dicuci, kemeja yang tidak pernah rapi, begitulah ciri dari Risa. Tapi hari ini, dia mengenakan rok hitam panjang dengan atasan berwarna terang, ia gerai rambutnya yang memanjang hingga punggung, dan jam kecil yang memberi kesan manis pada tangan kirinya.
Memasuki mall yang telah dijanjikan Jimmy sebagai tempat pertemuan mereka, hati Risa kian berdebar. Sampailah Risa di lantai tiga, tepatnya di area food court, dari jarak 15 meter, Risa telah menangkap sosok yang sangat ia kenal, laki-laki berkemeja biru tua, laki-laki itu melambaikan tangan, Risa pun berjalan ke arah lelaki itu dengan senyum paling cantik yang ia miliki.
"Hai, long time no see, dude. Apa kabar? Makin dewasa aja penampilan kamu." Risa menjabat tangan laki-laki dihadapannya. Rasanya berdesir sekali jantungnya, seperti aliran darah mengalir semua ke kepalanya saat ini. Ia sekarang sedang menggenggam tangan seorang yang masih ia sukai, laki-laki yang bertahun-tahun terkubur dalam kenangan dengan label laki-laki terbaik dalam hatinya.
"Alhamdulillah baik, Ris. Kamu beda banget sekarang, ngga salah nih pakai baju seperti ini?" ledek Jimmy kemudian keduanya tertawa. Jimmy mempersilahkan Risa duduk. Diantara deretan bangku itu, Risa memilih duduk bersebrangan dengan Jimmy. Risa sangat merindukan laki-laki yang sekarang ada didepan matanya, seandainya ini bukan di Indonesai, mungkin Risa sudah akan berhambur dalam pelukan lelaki itu, tapi tidak, jabatan tangan saja sudah berhasil mendidihkan darahnya sampai ubun-ubun.
Setelah hampir sepuluh menit berbasa-basi, Jimmy berkata
"Risa, aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang, maaf mungkin sudah sangat terlambat sekarang, tapi kamu adalah teman dekatku, dan karena kesibukan yang harus aku geluti setiap harinya aku baru bisa mengatakan padamu sekarang, karena memberi tahumu melalui gawai kurang puas rasanya." Jimmy memberi isyarat pada seseorang dibelakang Risa. Risa yang sudah tak karuan hatinya, menerka bahwa dia akan diperkenalkan pada orang tuanya, dan berpikir bahwa dia akan dilamar oleh lelaki tambatan hatinya membuat Risa berkali-kali merapikan rambut dan bajunya.
"Perkenalkan Ris, ini Istriku, Mila." Dan wanita yang sekarang berdiri disamping Jimmy menjulurkan tangannya, dengan senyum getir dan sekuat tenaga Risa menyembunyikan kekecewaan dan kehancurannya, Risa menyambut tangan itu, tangan seorang wanita dengan wajah yang cantik berbalut jilbab besar, "anggun sekali wanita ini, apa dia malaikat?" hati Risa berkata.
"Kenapa kamu hanya berkata akan mengenalkanku pada seseorang, bagaimana dengan gadis kecil cantik ini dan adik imut yang digendong ibunya?" Risa mencoba untuk bersikap biasa.
"Ah, iya, perkenalkan juga, ini Fathimah, anak pertamaku dan yang satu Ali, baru berusia 7 bulan." Jimmy menjelaskan.
Langit diatas kepala Risa rasanya runtuh, gontai dia kemudian rubuh diatas bangkunya. Bertanya-tanya kepada entah siapa yang ada didalam hatinya, "kenapa berakhir seperti ini, kenapa tidak dia kabarkan terlebih dahulu dengan siapa dia akan ke Semarang? Ah, aku yang bodoh, kenapa tidak aku tanya dari awal, kenapa aku terlalu bersenang-senang dalam imajinasi bodoh ini? Apa? Kencan? Bullshit! Proposal? Apa sebenarnya yang aku pikirkan? Bandingkan saja dirimu dengan malaikat dihadapanmu Ris! Anggun, cantik, lembut, siapa saja tentu akan memilih malaikat daripada gadis sembarangan sepertimu."
"Ya Allah Jimm, gimana bisa kamu udah punya dua anak gini? Memangnya kapan kamu menikah?" dengan berat pertanyaan itu Risa ucapkan, entah berapa lama lagi Risa mampu bertahan ditempat itu. Ingin rasanya ia berlari dan menangis sejadi-jadinya.
"Hahaha, iya Ris, aku bertemu Mila saat diterima di perusahaanku sekarang, kalau tidak salah, lima bulan setelah kelulusan, aku menikahinya."
Terjawab sudah rahasia yang menjadikan hubungan berkirim pesannya terhenti, ternyata saat itu Jimmy telah beristri. Dan Risa, masih menari dalam kegundahan karena perasaan mengganggu yang ia tambatkan pada lelaki dihadapannya. Lelaki yang masih menempati tempat terbaik hingga sampai beberapa waktu yang lalu, kemudian singgasana itu seketika longsor, dan hancur ke dalam jurang gelap hati Risa yang tak berdasar. Lenyap. Hilang. Hampa. Dingin. Getir
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #Fiksi
Jimmy yang tak pernah tahu perasaan Risa sebenarnya terhadap dirinya, hanya meninggalkan Risa dengan sebuah boneka beruang bertoga, dan sepaket senyuman manis dan lambaian tangan perpisahan. Begitulah kisah Risa dan Jimmy berakhir. Jimmy yang telah kembali ke kampung halamannya hanya beberapa bulan awal setelah kelulusan, mereka masih sering berkirim pesan. Sampai pada akhirnya rasa sungkan, dan enggan menggelayuti. Risa tak lagi mempunyai keberanian untuk sekedar bertanya hal-hal yang tidak penting. Sebuah perasaan yang kemudian Risa paksa kubur dalam aktifitas-aktifitas hariannya.
"Assalamu'alaikum Risa, apa kabar? Kebetulan bulan depan aku ada acara di Semarang, sudah lama ngga ketemu, apa kamu ada waktu?"
Deg.
"Pesan dari Jimmy, dia ingin bertemu denganku? Apakah aku sedang bermimpi?"
Dan hati wanita itu seketika berbunga, lenyap sudah usaha mengubur rasa yang telah ia paksa lakukan setiap harinya. Dan hari ini adalah hari itu, ribuan rasa bercampur di hatinya. Senyuman terus terkembang, sembari menyambar blouse berwarna peach yang semakin membuat kulit kuning langsatnya bersinar, Risa telah duduk di depan meja riasnya selama hampir empat puluh menit. Rambut yang sudah terikat rapi, kemudian ia gerai lagi.
"Ok, perfect."
Gumamnya setelah selesai merapikan riasannya yang sedikit dihapus karena menurutnya terlalu tebal. Risa berdandan feminim hari ini, karena dulu Jimmy sering protes dengan penampilan Risa yang tomboi, jeans belel yang dipakai sepekan penuh, sepatu kets yang jarang dicuci, kemeja yang tidak pernah rapi, begitulah ciri dari Risa. Tapi hari ini, dia mengenakan rok hitam panjang dengan atasan berwarna terang, ia gerai rambutnya yang memanjang hingga punggung, dan jam kecil yang memberi kesan manis pada tangan kirinya.
Memasuki mall yang telah dijanjikan Jimmy sebagai tempat pertemuan mereka, hati Risa kian berdebar. Sampailah Risa di lantai tiga, tepatnya di area food court, dari jarak 15 meter, Risa telah menangkap sosok yang sangat ia kenal, laki-laki berkemeja biru tua, laki-laki itu melambaikan tangan, Risa pun berjalan ke arah lelaki itu dengan senyum paling cantik yang ia miliki.
"Hai, long time no see, dude. Apa kabar? Makin dewasa aja penampilan kamu." Risa menjabat tangan laki-laki dihadapannya. Rasanya berdesir sekali jantungnya, seperti aliran darah mengalir semua ke kepalanya saat ini. Ia sekarang sedang menggenggam tangan seorang yang masih ia sukai, laki-laki yang bertahun-tahun terkubur dalam kenangan dengan label laki-laki terbaik dalam hatinya.
"Alhamdulillah baik, Ris. Kamu beda banget sekarang, ngga salah nih pakai baju seperti ini?" ledek Jimmy kemudian keduanya tertawa. Jimmy mempersilahkan Risa duduk. Diantara deretan bangku itu, Risa memilih duduk bersebrangan dengan Jimmy. Risa sangat merindukan laki-laki yang sekarang ada didepan matanya, seandainya ini bukan di Indonesai, mungkin Risa sudah akan berhambur dalam pelukan lelaki itu, tapi tidak, jabatan tangan saja sudah berhasil mendidihkan darahnya sampai ubun-ubun.
Setelah hampir sepuluh menit berbasa-basi, Jimmy berkata
"Risa, aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang, maaf mungkin sudah sangat terlambat sekarang, tapi kamu adalah teman dekatku, dan karena kesibukan yang harus aku geluti setiap harinya aku baru bisa mengatakan padamu sekarang, karena memberi tahumu melalui gawai kurang puas rasanya." Jimmy memberi isyarat pada seseorang dibelakang Risa. Risa yang sudah tak karuan hatinya, menerka bahwa dia akan diperkenalkan pada orang tuanya, dan berpikir bahwa dia akan dilamar oleh lelaki tambatan hatinya membuat Risa berkali-kali merapikan rambut dan bajunya.
"Perkenalkan Ris, ini Istriku, Mila." Dan wanita yang sekarang berdiri disamping Jimmy menjulurkan tangannya, dengan senyum getir dan sekuat tenaga Risa menyembunyikan kekecewaan dan kehancurannya, Risa menyambut tangan itu, tangan seorang wanita dengan wajah yang cantik berbalut jilbab besar, "anggun sekali wanita ini, apa dia malaikat?" hati Risa berkata.
"Kenapa kamu hanya berkata akan mengenalkanku pada seseorang, bagaimana dengan gadis kecil cantik ini dan adik imut yang digendong ibunya?" Risa mencoba untuk bersikap biasa.
"Ah, iya, perkenalkan juga, ini Fathimah, anak pertamaku dan yang satu Ali, baru berusia 7 bulan." Jimmy menjelaskan.
Langit diatas kepala Risa rasanya runtuh, gontai dia kemudian rubuh diatas bangkunya. Bertanya-tanya kepada entah siapa yang ada didalam hatinya, "kenapa berakhir seperti ini, kenapa tidak dia kabarkan terlebih dahulu dengan siapa dia akan ke Semarang? Ah, aku yang bodoh, kenapa tidak aku tanya dari awal, kenapa aku terlalu bersenang-senang dalam imajinasi bodoh ini? Apa? Kencan? Bullshit! Proposal? Apa sebenarnya yang aku pikirkan? Bandingkan saja dirimu dengan malaikat dihadapanmu Ris! Anggun, cantik, lembut, siapa saja tentu akan memilih malaikat daripada gadis sembarangan sepertimu."
"Ya Allah Jimm, gimana bisa kamu udah punya dua anak gini? Memangnya kapan kamu menikah?" dengan berat pertanyaan itu Risa ucapkan, entah berapa lama lagi Risa mampu bertahan ditempat itu. Ingin rasanya ia berlari dan menangis sejadi-jadinya.
"Hahaha, iya Ris, aku bertemu Mila saat diterima di perusahaanku sekarang, kalau tidak salah, lima bulan setelah kelulusan, aku menikahinya."
Terjawab sudah rahasia yang menjadikan hubungan berkirim pesannya terhenti, ternyata saat itu Jimmy telah beristri. Dan Risa, masih menari dalam kegundahan karena perasaan mengganggu yang ia tambatkan pada lelaki dihadapannya. Lelaki yang masih menempati tempat terbaik hingga sampai beberapa waktu yang lalu, kemudian singgasana itu seketika longsor, dan hancur ke dalam jurang gelap hati Risa yang tak berdasar. Lenyap. Hilang. Hampa. Dingin. Getir
#OneDayOnePost #ODOPBatch5 #Fiksi

Tabahkan hatimu Risa..walau berat..
BalasHapusBerat sekali, karena ternyata hingga akhir, Jimmy hanya menganggap Risa sebagai teman.
HapusCerpennya persis kisah sahabat saya Kak Nika.
BalasHapusTapi, lebih sedih lagi, mereka tak pernah putus komunikasi, hingga akhirnya lewat medsos si lelaki, sahabat saya ini mengetahui bahwa insan yang diidamkannya telah berkeluarga.
#yahbukanjodohnyaya
Ya Allahh... Sakit banget kalo itu... Padahal ini aku ceritanya bukan denger dari siapa-siapa, tapi dari mimpiku sendiri... Hehe
HapusSerasa ikut tersayat baca ceritanya. Hiks. Keren.
BalasHapusPukpukpuk ...
HapusAku g mau jadi risa💃💃💃
BalasHapusNa'udzubillah yak 😂
HapusBeuh, sakit hati~ :"
BalasHapusRasanya pen banting hp abis baca ini~ huhu
Dihh, mana sini buat aku aja hapenya hihihi
HapusPatah hati sebelum berkembang
BalasHapusSo sick~~~
Hapus